Senin, 21 Oktober 2013

Sweater Merah Jambu


Kevin jalan terburu-buru dengan wajah pucat. Dia menunduk dan mulutnya komat-kamit mengucap doa agar tidak dipalak hari ini. Keringat dinginnya mengucur. Hari ini dia memang membawa duit lebih untuk pergi ke toko buku dan membeli beberapa edisi terbaru komik one piece kesukaannya.
Dia sampai di halte bus dan semuanya baik-baik saja. Kevin bersyukur dalam hati. Rombongan Dino CS tidak memergokinya hari ini, mungkin karena sudah dapat ‘mangsa’ yang berdompet tebal. Keringat dingin yang menjalar ke suluruh tubuhnya sudah agak mongering setelah setengah jam dia tidak mendapati wajah Dino CS nongol dengan tiba-tiba seperti biasanya.
Iseng, Kevin menyapu pandangan di sekitar halte bus . Melihat pemandangan setenang ini jarang dia lakukan, karena biasanya dia selalu menunduk sehabis menjadi ‘mangsa’ Dino CS. Tetapi, hari ini entah apa yang membuatnya melakukan hal itu, hingga dia serius sekali menatap semua yang bisa terlihat matanya.
Daya magis dari arah tempat les musik milik yayasan sekolahnya yang berada tidak terlalu jauh dari halte bus yang sedang Kevin singgahi mampu membuat Kevin terdiam sangat lama. Dia melihat seorang wanita yang tidak biasa. Wanita itu sangat anggun, dia mempunyai kulit berwarna putih pucat dan yang tidak kalah membuatnya terkagum adalah, wanita itu mengenakan sweater merah jambu di bawah amarah sinar matahari yang membuatnya semakin menawan di mata Kevin. Rambutnya terjuntai sepunggung, tetapi diikat setengah menggunakan pita berwarna serupa dengan sweaternya. Dia menenteng biola, dan seperti malu-malu dia berjalan dengan pelan dan hati-hati. Wajahnya tersapu kilatan sinar matahari dan titik-titik keringat dari keningnya terlihat berkilauan. Bias sinar wajahnya terlihat begitu indah. Cantik, pikir Kevin. Hanya saja terdapat benda kecil yang menyumbat telinganya serta buku kecil dan pena terjepit tergantung di lehernya, entah itu benda aneh apa. Yang pasti Kevin terlalu kagum dengan sosok yang baru sekali dia lihat tersebut hingga dia tidak peduli lagi jika langit runtuh saat itu juga, asal Kevin bisa berlama-lama menatap wajah itu. Namun seperti dipanggil tanpa suara, bus yang sejak tadi Kevin tunggu sudah bertengger di hadapannya, menyuruhnya untuk segera masuk dan pergi ke toko buku seperti yang direncakannya. Jika saja bukan karena komik one piece kesayangannya, mungkin Kevin akan terus terpaku di bangku reot halte bus dengan wajah yang seperti ‘jatuh cinta’ pada sosok menawan itu.
***

Syahwa membetulkan posisi duduknya. Wajah gagah dan tegas itu menyembul dari balik pintu kamarnya yang sengaja tidak dikunci.
“Kau serius akan sekolah?”
Syahwa tersenyum manis sambil mengangguk.
Perlahan namun pasti sosok pria yang sangat tampan ini masuk ke dalam kamar yang ukurannya sangat luas. “Baiklah. Mau kan di sekolah Papa saja? Papa sedikit khawatir.”
Lagi-lagi Syahwa hanya mengangguk dan tersenyum manis. Itu impian terpendamnya sejak dulu.
“Papa usahakan, minggu depan kamu sudah bisa bersekolah. Semuanya terkadang tidak berjalan dengan lancar, terlalu sulit jika harus mengurus semuanya dengan terburu-buru. Tidak apa-apa kan?”
Wajahnya terlihat mendung, ternyata menjadi pemilik yayasan sekolah tidak cukup untuk membuat segala urusan pindah sekolah menjadi lebih singkat. Tetapi, dia menyembunyikan perasaan kecewa itu, lalu kembali tersenyum, kali ini mamaksakan senyumnya.
“Jangan lupa membeli stok buku catatan kecil.” Papanya tersenyum dengan menawan. Lalu membelai rambut peri kecilnya.
Syahwa mengangguk ceria. Berarti akan ada jatah tambahan untuk membeli buku, katanya dalam hati.
Sejak kecil Syahwa memang hobi membeli buku catatan kecil, dan hingga sekarang hobi itu tidak pernah pudar. Setiap harinya selalu ada yang ditulisnya di buku itu, untuk berkomunikasi dengan orang lain. Syahwa memang tuli dan tidak bisa bicara. Dia tidak pernah suka belajar bahasa isyarat. Dia membenci belajar sesuatu yang seakan membuatnya terlihat tidak bisa melakukan hal seperti yang dilakukan orang normal pada umumnya. Dia tidak bisa mendengar, tetapi dia memakai alat untuk membantunya agar dapat mendengar. Orang normal jarang ada mengerti bahasa isyarat dan dia mulai membenci itu, maka jalan keluarnya adalah menulis. Dia menulis semuanya di buku catatan kecil yang selalu digantung di lehernya dengan pena jepit kecil guna menulis untuk berkomunikasi. Bahkan buku-buku catatan kecil sejak Syahwa kecil hingga sekarang tetap dia susun rapid an teratur di rak-rak bukunya.
Selama ini, segalanya berjalan dengan lancar. Hingga detak jantungnya berdebar tidak seperti biasanya ketika dia ingin kembali menyicipi bangku sekolah seperti saat sekolah dasar dulu. Namun sejak ‘dibully’ salah satu teman sekelasnya, Syahwa menjadi takut pergi sekolah dan melanjutkan home schooling. Tetapi rasa ‘rindu’ akan bangku sekolah dan riuh-rendah celoteh ala anak sekolahan membuatnya kembali menahan rasa takut yang berkecambuk dalam dadanya.
Ingatan itu masih jelas tergambar dalam memori otaknya. Saat Rika mencemooh bahwa Syahwa tidak normal karena terus menggunakan bahasa isyarat dan berbicara tidak jelas saat menjawab pertanyaan guru ketika duduk di bangku sekolah dasar. Tangisan Syahwa tidak terbendung saat ucapan-ucapan Rika yang seperti pisau menghujani hatinya pelan namun dalam.
Tergurat ocehan-ocehan pilu Syahwa saat mamanya mencoba menenangkan tangisnya yang begitu mengiris. Syahwa masih bisa merasakan pelukan hangat yang diberi mamanya bertubi-tubi kala itu. Namun, sekarang, pelukan hangat itu berganti dengan pelukan kokoh namun dingin dari papa. Syahwa tahu papanya menyayanginya, sangat malah. Tetapi, sepertinya almarhumah mama tidak dapat digantikan oleh papa yang sangat menyayanginya tersebut. Dia masih belum bisa mengganti pelukan hangat itu dengan pelukan kokoh yang dingin milik papanya. Dia hanya perlu waktu lebih lama.

Segala persiapan untuk masuk sekolah milik papanya sudah tersedianya. Segala urusan seperti harus berjalan sangat lambat hingga Syahwa masih harus menunggu sampai minggu berikutnya untuk masuk sekolah normal.
Tetapi, Syahwa cukup percaya diri karena dia sudah merasa berada di atas rata-rata orang normal pada umumnya. Dia mahir bermain biola, serta menguasai bahasa Prancis dan Inggris, padahal umurnya baru menginjak 14 tahun. Dan dia akan merasakan memakai pakaian sama seperti ratusan orang murid dalam sekolahnya setiap hari. Itu lucu baginya. Karena, dia tidak biasa mengenakan seragam saat sekolah, bahkan dia tidak mengenal jam istirahat kecuali saat di sekolah dasar, baginya saat dia home schooling kapanpun dia ingin makan, dia akan makan dan gurunya akan dengan sangat sabar menunggunya hingga selesai.

Akhirnya, hari ini datang…
“Non Sasa pagi-pagi udah rapih aja, udah siap banget mau sekolah ya, Non?” sapaan bibi Woro pagi ini seperti angin baik yang berhembus di telinga Syahwa.
Syahwa hanya menyunggingkan senyum termanisnya. Lalu dengan cepat menulis sesuatu di buku cacatan kecil yang tergantung di lehernya dengan pasrah. “Gimana penampilanku?” dia memperlihatkan tulisan tangannya yang indah di kertas putih dengan tinta pena hitam menyala kepada bi Woro.
“Cantik sekali. Seperti biasanya.”
Dia menulis lagi. Kali ini lebih serius dari sebelumnya. “Sweaterku mengganggu gak untuk dipakai ke sekolah?”
“Enggak, non. Kan bapak udah bilang kemarin, non gak apa-apa kalo mau make sweater tiap hari ke sekolah.” Bi Woro tetap memasang senyum manisnya.
Syahwa tersenyum senang. Pagi ini adalah pagi terbaiknya. Tas berwarna violet berisi beberapa buku kosong yang sengaja dia sampul berwarna cerah hari ini akan menemani hari pertamanya masuk sekolah normal. Pita merah jambunya seperti biasa bertengger di kepalanya dengan manis.
***

Syahwa, kelas 10 jurusan kesenian. Isunya dia fasih memainkan biola, dan yang lebih mengejutkannya lagi, dia baru berumur 14 tahun. Sayangnya, dia tuli jika tidak menggunakan alat bantu dengar dan tidak bisa bicara.
Berita hangat di seluruh yayasannya itu masih bergentayangan dalam benak Kevin. Pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali muncul setiap memikirkan apa yang teman-temannya bilang selalu saja berbunyi, “Yang mana itukah yang namanya Syahwa?” “Semenarik apasih dia?” “Dia cantik atau enggak ya?”
Entah mengapa Kevin jadi sebegini penasarannya. Tetapi rasa penasarannya itu sering kali terlupakan oleh bayangan-bayangan pesona wajah wanita bersweater merah jambu seminggu yang lalu.
Tetapi, akhir-akhir ini setiap Kevin ingin pulang dengan bus dan menatap lama-lama atau bahkan mengajaknya berkenalan wanita bersweater dan berpita merah jambu itu, dia akan berpikir 2x karena takut harus membayar pajak yang selalu ditagih Dino CS, entah pajak apa yang mereka tagih pada setiap anak di yayasan Angkasa ini.

Minggu berikutnya, Kevin berkesempatan pulang dengan bus, karena Dino CS sudah di DO secara tidak terhormat. Kabar angin mengatakan bahwa pemilik yayasan Angkasa sendirilah yang mengeluarkan mereka. Entah informasi darimana yang telah sampai di telinga pemilik yayasan hingga rahasia umum yang dijaga ketat oleh Dino CS secara turun-temurun dari tahun ke tahun bisa terbongkar oleh orang yang bahkan tidak pernah terlihat sedikitpun batang hidungnya di sekolah.
Kevin merasa hari-harinya akan terus menyenangkan dan tidak perlu ketakutan untuk memilih jalan pulang melalui bus. Sepertinya hatinya dan semua orang di Sekolah Menengah Atas Angkasa ini akan merdeka selamanya setelah Dino CS enyah dari pandangan mereka.
Seperti selalu ada ucapan lirih berbunyi, “Akhirnya…” pada setiap orang-orang yang menunggu bus di halte bus yang sempit dan kecil saat mereka mendapat kabar bahwa palakan Dino CS sudah kadaluarsa dan mereka boleh lega, seperti pasung di duit-duit mereka lepas dengan sendirinya saat mengetahui berita tersebut.
Kebanyakan orang di sekolah yang mengetahui berita Dino CS telah dimusnahkan berterimakasih dan berharap siapapun yang memberitahu pemilik yayasan tentang kedok Dino CS agar dia mendapat berkah dan pahala. Kevin ikut meng-amin-ni sambil tersenyum. Kalau dipikir-pikir, hebat juga yang berani melaporkan kepada pemilik yayasan secara langsung. Kevin yang dari taman kanak-kanak bersekolah di yayasan Angkasa saja tidak pernah sekalipun melihat pemilik yayasan yang terkenal bijaksana dan ramah tersebut.

Kevin celingukan mencari sosok yang tidak ditatapkan sekitar setengah bulan lamanya. Ada rasa rindu yang diam-diam menyelinap walau gengsi untuk diakui. Walaupun baru sekali bertemu, Kevin merasa seperti kecanduan melihat wajahnya, bibir merahnya, serta pita yang mengikat sebagian dari rambutnya, peluh di sekitar anak-anak rambutnya yang berkilauan ketika bertemu dengan sinar matahari, dan benda kecil yang menyumbat telinga mungilnya, warna kulitnya yang terlalu putih untuk seukuran orang Indonesia.
Kevin meyakini sesuatu, dia pasti les biola di Melody Angkasatempat les musik yang sengaja dibuat oleh yayasan Angkasa, dan bagi anak-anak yang bersekolah di yayasan Angkasa akan diberi potongan harga sebesar 25%. Jadi Kevin memutuskan untuk sekedar berjalan-jalan tak tentu arah yang melewati Melody Angkasa yang terletak tidak cukup jauh dari halte bus. Kevin tidak dapat menahan rindunya lagi setelah setengah bulan.
Tiba-tiba saja langit mending dan angin berhembus kencang, rintik-rintik hujan mulai berjatuhan. Satu titik.. dua titik.. lalu lama-lama menjadi banyak dan tak henti-hentinya menerpa aspal tandus di sekitar halte bus. Gemericik bunyi dari atap seng halte bus bertarung dengan gemuruh hujan yang semakin deras. Sementara Kevin mulai menyukai suasana ini, suasana tenang dan teduh yang dari dulu dia dambakan.
Dan secara tidak sengaja, matanya menangkap sosok yang sedari tadi dia cari. Sosok itu kebingungan mencari tempat untuk berteduh. Tubuhnya basah kuyup senyisakan sweater merah jambunya yang sudah berwarna merah jambu basah yang kuyu.
Kevin menikmati pemandangan itu, wajahnya agak pucat dan dia terlihat seperti agak kedinginan, sampai saat Kevin sadar dia harus menyelamatkan kesehatan wanita menawan itu.
“Sini.” Kata Kevin cepat menarik lengan langsing wanita yang rambutnya sudah basah oleh air hujan ke tempat yang lebih teduh di dekat tempat duduk Kevin. Air tumpah dari tubuhnya yang menjadi semacam gerimis kecil bagi Kevin yang tubuhnya masih kering.
Wanita itu tersenyum kikuk, seperti agak ketakutan. Benda kecil yang menempel pada telinga wanita itu yang Kevin lihat 2 minggu lalu tidak hilang, hanya buku catatan kecil yang tadinya di lehernya sudah tidak berada di tempatnya.
Kevin mengulurkan tangan ke hadapan wanita itu, “Kevin.”
Wanita itu menjabat tangan Kevin lembut, lalu tersenyum. Dan dengan cepat mengambil sesuatu dalam tasnya, kemudian menulis sesuatu di buku catatan kecil yang basah. “Syahwa”, lalu menunjukkannya kepada Kevin sambil tersenyum manis.
Kevin terlonjak melihat tingkah wanita di sampingnya, dan lebih kaget lagi ketika melihat nama wanita yang selama ini menjadi misteri di hatinya. Ternyata si greenie1 itu adalah wanita yang selama ini dia kagumi. Dan dia benar-benar bisu dan tuli. Perlahan, debar jantungnya mulai tak beraturan dan gugup. Kevin menjadi chicken2 seketika.
Kemudian Kevin menulis sesuatu di buku catatan kecil basah milik Syahwa, “Kamu cantik” sambil tersenyum. Kali ini senyumnya begitu tulus dan tidak ada rasa paksaan dalam hatinya. Kevin tidak kehilangan debar jantungnya yang tidak beraturan saat mengetahui Syahwa adalah seorang yang bisu dan tuli, malah semakin mengaguminya, apalagi ketika Kevin mengingat perkataan temannya yang berkata bahwa Syahwa mahir bermain biola. Bahkan, umurnya baru 14 tahun.
Syahwa tersenyum sangat manis namun malu-malu. Mungkin jika dia berkaca, dia akan menyadari betapa merah jambunya pipi bulat itu sekarang. Syahwa merasakan getaran itu. Getaran yang mengguncang jantungnya dan merasakan banyak kupu-kupu berterbangan dalam perutnya.
Baru kali ini dia sebahagia ini.
Hujan tiba-tiba berhenti dan langit cerah seketika, seperti mendung dalam hati Kevin dan Syahwa yang meredam dan tergantikan oleh awan-awan biru muda dan kicauan burung. Dada mereka berdesir mengalunkan nada yang sama. Nada itu tidak terdengar namun terlihat pada air muka mereka. Wajah kebahagiaan. Wajah malu-malu namun manis.
“Aku antar pulang ya?” kalimat dalam nada bicara Kevin seperti memohon, padahal Kevin tidak tahu bahwa tanpa memohon pun Syahwa akan membiarkan Kevin mengantarnya pulang.
Desau angin berhembus seakan ceria di telinga Kevin dan Syahwa, mengantar mereka sampai pada titik dimana mereka kembali terdiam malu-malu, tetapi mereka tahu, mereka sama-sama memendam perasaan yang sama.
***
created by. Fara Dwitya :)


Greenie1: pendatang baru
Chicken2: penakut/cemen

Source : http://dwityafara.blogspot.com/2013/09/sweater-merah-jambu.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar