Senin, 29 Agustus 2016

Kenangan

Suasana sekolah tidak seperti biasanya, sekolah sangat ramai dan dihiasi dengan berbagai macam pernak-pernik bertuliskan “Selamat Hari Sumpah Pemuda”.
“Ah, pasti acara OSIS, sepertinya nggak belajar lagi nih hari ini” pikir Kevin sambil melengos dan pergi kearah kelasnya. Sambil berjalan Kevin sekali-sekali memperhatikan anggota Paskibra sekolah yang sedang berlatih untuk persiapan upacara pagi itu. Matanya sibuk mengeksplorasi lapangan hingga sampai pada wajah seseorang yang dia kenal sedang berlari kearahnya.
Dan orang itu adalah orang yang sudah membuatnya sakit hati, orang yang sudah menggoreskan luka dihatinya. Clara.
“Hai, Kevin! Sendiri aja,nih” katanya ramah, tapi Kevin hanya mengganggap itu sebagai modus dia ingin mendekatinya. Kevin hanya cuek.
“Hm, sepertinya kamu masih marah ya” katanya dengan tampang sedih. Seperti sedang mengharapkan Kevin untuk berbicara padanya. Dan sepertinya, dia berhasil.
“5 menit” kata Kevin singkat sambil berhenti berjalan dan menghadap kearahnya. Dan terlihat senyum mekar diwajah Clara.
“Aku cuma mau minta maaf, soal perilaku ku sama kamu. Aku sangat menyesal sudah mengatakan itu, aku hanya ingin memulai semua dari awal”
Setelah semua yang dia lakukan? Setelah dia menusuk hati Kevin dengan kata-katanya itu? Setelah dia mengakui didepan semua orang kalau Kevin bukan siapa-siapa? You must be kidding.
Kevin hanya pasang tampang cuek. Sampai akhirnya dia mengeluarkan tatapan sedih itu lagi. Mungkin, ini salah satu kelemahan Kevin, dia terlalu lemah dengan tatapan sedih seorang wanita.
“Terserah lah” jawabnya sambil melanjutkan berjalan.
“Aku tunggu di cafe biasa ya?” teriak Clara sambil melambaikan tangan.
***
Kevin dan Clara terhanyut dalam pembicaraan mereka. Sehingga tanpa mereka sadari, seseorang sedang mengintip mereka dari jauh dan mendengar jelas percakapan mereka. Seketika lutut orang itu lemas dan terduduk sambil menutup wajahnya dengan lutut. Orang itu ingin bangkit, tapi tas biru mudanya yang sangat berat serta pemandangan yang sangat tidak ingin disaksikannya seolah menjadi beban tersendiri untuknya.
“Aku harus mengikuti Kevin” pikirnya.
***
“Akhirnya sampai juga” pikir Kevin sambil segera masuk kedalam cafe, mencari-cari sosok yang menyuruhnya datang kemari. Benar, menyuruh. Karena sejujurnya dia tidak mau lagi menemuinya.
“Hey, kukira kamu gak bakal datang kemari” kata Clara.
Tadinya memang begitu.
“Aku udah pesenin minuman kesukaanmu, cappucino ice with bubble
Kevin tidak pernah bisa menolak minuman ini sekeras apapun aku mencoba. Dia benar-benar di skakmat.
“So, gimana keluargamu? Sehat semua kan?” tanyanya kepada Kevin yang masih sibuk menyeruput minumannya.
“Sehat-sehat aja, keluargamu gimana?”
“Alhamdulillah. Semuanya baik-baik saja” balasnya sambil tersenyum. “Kevin, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan, tentang kita” katanya serius.
“Ada apa?” kata Kevin setelah berhenti meminum minumannya.
“Apa kamu masih ingat? Dulu kalau kita lagi berantem kita selalu lari kesini, dan anehnya kita juga selalu ketemu disini” kata Clara sambil melihat sekitar seolah membayangkan hal itu benar-benar terjadi. “Tapi, semua itu hanya kenangan” seulas senyum kemudian mekar diwajahnya.
“Maksud kamu? Aku tidak mengerti”
“Aku ingin, kita kembali kayak dulu lagi,vin. Pulang bareng, nonton bareng, makan bareng. Menghabiskan waktu bersama seperti dulu lagi”
Kevin hanya terdiam. Dia terlalu terlelap dengan pikirannya sendiri dengan perkataan Clara saat itu. Sampai tidak menyadari, ada sebuah kamera yang mengabadikan setiap detik itu
***
“Please, Kevin” kata Clara sambil memegang tangan Kevin.
Ckrek. Sekejap kemudian sebuah kamera polaroid yang digantung dileher sukses mengabadikan saat itu. Kamera itu tidak dapat disadari oleh Kevin dan Clara karena posisinya yang tertutup oleh tas biru muda. Tas biru muda milik Syahwa.
Syahwa yang sedari masuk sekolah sudah membuntuti mereka berdua dengan kesal. Kekesalannya bertambah karena Kevin tidak mengakui kalau dia ingin menemui Clara. Tiap kali Syahwa bertanya kepadanya dia mau pergi kemana, pasti Kevin hanya menjawab “mau ke rumah teman”.
“Maaf, Clara. Aku tidak bisa menerima kamu lagi” jawab Kevin.
Seketika itu Syahwa menurunkan kameranya dan ikut penasaran dengan apa yang akan Kevin katakan.
“Aku sudah jatuh cinta dengan orang lain” lanjutnya.
Syahwa kemudian terdiam. Tak lama kemudian keluar air mata dari ujung matanya.
Kevin sudah jatuh cinta dengan orang lain? Lantas apa maksud perlakuan padaku kemarin? Apa itu hanya omong kosong semata?
Syahwa segera keluar dari cafe itu. Hanya secangkir coklat panas yang kini tinggal setengah serta uang diatas bill yang ada diatas mejanya. Tanpa ingin memikirkan apapun lagi ia pergi keluar dan mencari angkutan umum untuk pulang kerumahnya. Hatinya terlanjur retak oleh orang yang dia sayangi.
***
“Siapa Kevin?” tanya Clara heran.
“Aku tidak bisa bersamamu denganmu lagi. Aku sudah mencintai orang lain, dia Syahwa” jelas Kevin padanya.
“What? Anak yang tidak bisa bicara itu?”
Plak. Sebuah tamparan mendarat sukses di pipi Clara.
“Sekali lagi kamu bicara seperti itu tentang Syahwa didepanku, aku tidak akan segan-segan menamparmu lagi” emosi pun mengambil alih dirinya. “Dia mungkin tidak secantik dirimu, tidak sekaya dirimu,dan tidak sesempurna dirimu. Tapi satu yang membuatku memilihnya, dia tulus mencintaiku” jawabnya sambil kemudian keluar dari cafe itu dan melewati meja dengan sebuah coklat panas, dia terdiam sejenak di meja itu, setelah akhirnya kembali beranjak pergi.
***
Tamparan barusan benar-benar memberi kesan dalam untuk Clara. Baik diwajahnya, maupun dihatinya. Dia merasa sudah diinjak-injak harga dirinya oleh orang yang tidak sebanding dengan dirinya. Orang yang tidak bisa berbicara normal dengannya.
Dan Kevin? Entah setan apa yang merasuki pikirannya hingga dia “membuang” Clara, yang jelas-jelas adalah cewek terpopuler disekolahan.
“Aku harus merebut Kevin kembali, entah dengan cara apapun”
***
Pertemuannya dengan Clara ini sangat ia sesali. Dia merasa sangat salah sudah membohongi Syahwa, dan dia juga merasa marah karena “kenangan” masa lalunya datang untuk merusak hubungannya.
Setelah membawa motornya selama beberapa menit sampailah dia didepan rumah Syahwa. Dia kemudian menekan bel. Tapi yang keluar adalah bibi Woro yang kemudian memberikan pesan yang tidak mengenakkan untuknya.
“Maaf, nak Kevin. Non Sasa sepertinya sedang tidak ingin diganggu, soalnya tadi bibi lihat dia pulang sambil menangis” kata bibi Woro dengan wajah khawatir.
“Oh begitu ya, bi. Baiklah, titip salam aja buat dia,bi” jawab Kevin seraya meninggalkan rumah Syahwa sambil melepas senyum kepada bibi Woro tanda pamit.
Sebuah pertanyaan timbul di benak Kevin. Apa yang sebenarnya terjadi?.
***
“Kevin jahat!” teriak Syahwa dalam hatinya, seolah ingin memarahi Kevin, dan dirinya sendiri. Hatinya benar-benar sudah kacau. Disatu sisi, dia senang Kevin tidak kembali kepada Clara. Tapi disisi lain, dia hancur karena dia merasa semua perlakuan Kevin selama ini hanya omong kosong.
Dia kemudian memandang kembali foto-foto yang diambilnya tadi. Entah kenapa, dia merasa seolah tidak bisa marah dengan lelaki itu. Betapapun hatinya menolak untuk memaafkannya.
Kemudian beberapa saat setelah itu, pesan singkat muncul di ponsel Syahwa. “Pasti dari Kevin” pikirnya. Dia memang berharap Kevin mengiriminya sms kalau dia minta maaf atas kebohongannya siang ini. Tapi Syahwa terkejut ternyata bukan Kevin, tapi Ayahnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi isi pesannya.
From : Ayah
Maaf, kami dari rumah sakit Urip Sumoharjo. Apakah betul anda anaknya? Kami ingin memberitahukan kalau Ayah anda mengalami kecelakaan. Tolong segera kerumah sakit.
“Ayah kecelakaan?” teriaknya dalam hati.

Saat itu juga Syahwa langsung mengganti pakaiannya dan segera menelpon taksi untuk pergi kesana. Dia sangat takut. Dia tidak mau kehilangan orang tuanya, lagi.

Senin, 11 November 2013

Untukmu putri kecilku.



Untukmu, putri kecilku

Kamu yang selalu tersenyum menghadapi tingkah konyolku. Aku pun bingung sendiri ketika kau tetap tersenyum ketika kau melihat tingkahku yang seperti anak-anak. Saat itu kau hanya tersenyum dan menatap mataku seraya berkata, “kakak lucu,ya”.
Aku masih ingat dulu pernah memberimu sebuah buku pelajaran dengan harapan kamu menjadi seseorang yang berprestasi, dan ternyata berhasil. Kamu sekarang menjadi lebih hebat dibanding aku pertama mengenalmu. Dan tanpa sadari, aku membangun perasaan spesial dihatiku.
Aku dulu pernah melupakan perasaan ini, aku pernah hanya menganggapnya angin lalu. Aku pun biasa saja ketika melihatmu dengan pacarmu. Tapi lama kelamaan, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Perasaan yang dulu kubangun akhirnya melahirkan perasaan baru yang selalu kuanggap pengganggu, perasaan yang selalu ingin kuhindari karena sudah terlalu lelah sakit karenanya. Cemburu.
Kukira dengan tidak mengontakmu sama sekali, aku bisa menghilangkan perasaan yang menumpuk dihatiku, meruntuhkan perasaan yang dua tahun lalu sudah kubangun. Tapi sia-sia, perasaan itu tetap saja hinggap disudut hatiku, bahkan ketika aku memiliki pacar baru. Rasa itu tidak pernah berubah. Aku tetap sayang kamu.
Aku sangat iri dengannya. Aku iri karena dia benar-benar membuatmu menutup hatimu. Benar-benar membuatmu tidak bisa melupakan dirinya. Sakit rasanya, ketika aku dengan tololnya memberikan kode-kode untuk kau terjemahkan. Tapi yang kudapat hanyalah kata-kata tentang memorimu bersamanya.
Hingga saat itu, aku beranikan diri untuk mengatakan perasaanku padamu. Bahkan didepan teman-temanmu. Aku masih ingat sekali wajahmu ketika kau akhirnya menerimaku untuk mengisi hatimu. Tapi, aku melihatnya. Matamu, mata itu, menggambarkan keraguan yang benar-benar menusuk hatiku.
Aku berjanji, aku tidak akan mengecewakanmu. Tapi yang aku lakukan hanya mengecewakanmu. Aku selalu berharap dapat menjadi pengganti dirinya. Tapi ternyata kenangannya masih kau simpan disudut hatimu.
Memang bodoh untuk menyuruhmu melupakan kenangan indahmu bersamanya, semudah aku melupakan kenangan indahku bersama kekasihku dulu. Tapi tak bisa kupungkiri, aku sangat membenci orang itu.
Aku mulai bertanya, apakah aku, orang yang baru masuk dalam hatimu, pantas untuk menempati bagian hatimu. Yang didalamnya sudah melekat erat kenanganmu bersamanya.
Aku benci ini, aku cemburu,aku sedih. Dan yang paling penting, aku ingin kau tahu, aku tak ingin kehilanganmu.

Dari seorang yang berharap menjadi penghapus airmatamu

Thanks ya hujan.



Hai hujan,
kenapa kau selalu datang disaat seperti ini
Saat aku sedang sedih
karena aku tak mampu menghapus lukanya

Hai hujan
kenapa aku harus bertemu dengan mu
Saat aku sedang sedih
karena aku tahu aku ternyata tidak sepadan dengan kenangannya

Hai hujan
kenapa kau selalu menemani hari-hariku
Saat aku sedang sedih
karena aku melihat keraguan setiap dia mengucapkan “I love you”

Hai hujan, aku tahu, mungkin saat ini kau sedang menambah air mataku.
Tapi aku senang, kau membantuku menyembunyikannya hal yang dapat membuatku merasa orang paling rapuh didunia.
Dan aku senang, kau menyembunyikannya dari orang yang kusayang

Seharusnya itu aku...


Seharusnya itu aku,
Aku yang menemanimu diujung sedihmu
Aku yang mengisi kekosongan hatimu
Menghapus segala air matamu
Tapi aku sadar, itu bukan aku

Seharusnya itu aku,
Yang berkali-kali menggoreskan luka dihatimu
Namun kau tetap sabar sambil tersenyum
Dan mengatakan, “aku sayang kamu”
Tapi ternyata, itu bukan aku

Seharusnya itu aku,
Yang ada dibayangan matamu ketika aku mengatakan “aku mencintaimu”
Dan kau menjawabnya dengan penuh keraguan
Aku mencoba melihat kedalam bayangan yang ada dimatamu
Dan sedihnya, itu bukan aku

Seharusnya itu aku,
Yang selalu kau bicarakan dalam setiap obrolanmu dengan rekanmu
Yang selalu kau banggakan ketika kau bersama temanmu
Tapi setiap kali kau mengobrol denganku
Aku menyadari, itu bukan aku

Itu bukan aku,
Yang selalu menjadi bahan inspirasimu
Yang selalu membuatmu bersemangat menjalani hari
Yang menjadi pasanganmu yang merangkai kata-kata di novel kehidupan ini
Yang menjadi penghapus segala kegalauanmu tentang dirinya
Yang menjadi penyebabmu bersedih maupun senang
Harusnya, itu aku...

Rabu, 23 Oktober 2013

Poem - Im Happy For You



Im happy for you
For your smile
Even it break my heart
Even it is pain for me

Im happy for you
For your laugh
Even it not because me
Even it not for me

Im happy for you
For your time together with me
Even it will be disappear
Even it your time is for his now

Im happy for you
I haven’t any reason to forget our memories
Even we will not make a memories again
Because you will make ones with another person

Im happy for you
Because i love you

Senin, 21 Oktober 2013

Tas Biru Muda



Pagi ini semua terlihat lebih cerah dimata Syahwa. Dia masih terngiang-ngian wajah Kevin saat dia mengantarkan Syahwa pulang kerumahnya kemarin. Dia kemudian mengecek handphone-nya. Dia kemudian tersenyum ketika melihat ada sebuah tanda sms masuk terpampang dilayarnya. Wah, sms dari Kevin.
“Selamat pagi, Tuan Putri! Semangat ya untuk hari ini ;)”
Sontak wajahnya yang putih pucat berubah menjadi merah merona ketika melihat kata “Tuan Putri” di SMS Kevin.
“Selamat pagi, kamu juga ya ;)” balas Syahwa kepada Kevin.
***
“Wah, si non daritadi senyum mulu, ada apa nih”  sapa bibi yang dari tadi memperhatikan senyum selalu terpancar dari wajah Syahwa.Syahwa kemudian mengambil catatan kecilnya dan menulis sesuatu disana kemudian memperlihatkannya ke bibi Woro.
“Lagi senang banget,bi!”
“Bagus deh kalau gitu,non. Bibi ikut bahagia. Cepetan gih non, papa udah nunggu tuh, kasian kalau lama” jawab bibi sambil membawakan tas Syahwa yang berwarna biru muda.
Kicau burung seakan mengiringi kepergian Syahwa kesekolahnya, semua tampak sangat indah dari balik kaca mobil. Setelah beberapa saat, Syahwa sampai juga disekolahnya tercinta, sepertinya sekolah tampak masih sepi. Sudah kebiasaan Syahwa untuk datang 30 menit sebelum bel masuk berbunyi. Biar bisa mengulang pelajaran kemarin sebelum bel masuk jawabnya ketika ditanya kenapa oleh orang lain. Tak lupa dia mencium tangan papa sebelum dia masuk kedalam area sekolah.
“Belajar yang rajin ya,nak” kata papa-nya sambil mencium kening Syahwa. Dia selalu ingat saat-saat dimana kedua orang tuanya mencium keningnya ketika dia hendak pergi sekolah. Tapi sekarang, hanya papa-nya saja yang masih bisa melakukannya, karena mama-nya sudah dipanggil Tuhan terlebih dulu.
Syahwa kemudian menulis dicatatan kecilnya kemudian memperlihatkannya ke papa sambil memasang senyum yang lebih manis dari sebelumnya.“Papa hati-hati dijalan,ya”
“Iya,sayang. Maaf papa belum bisa jemput kamu hari ini, kamu hati-hati ya kalau pulang” kata papa sambil menjalankan mobilnya diikuti dengan lambaian tangan yang kemudian dibalas oleh Syahwa.
***
“Huff, pelajaran hari ini benar-benar melelahkan” batin Syahwa sambil menghempaskan dirinya ke ranjang. Dia kemudian teringat wajah Kevin yang tanpa sengaja dia liat dilapangan ketika sedang pelajaran olahraga. Oh manis nya.
Ding! Ponsel Syahwa berbunyi, dan dilayarnya terlihat nama pengirim yang tidak asing, Kevin. “Jangan lupa makan siang ya, Tuan Putri!” Syahwa tersenyum. “Iya, kamu juga ya.vin!” balasnya. Perlahan tanpa dia sadari, dia semakin cinta pada lelaki itu.
***
Kevin sedang tidur diranjangnya sambil membayangkan wajah Syahwa. Sosoknya selalu muncul disetiap kegiatan Kevin, dan secara tidak langsung menjadi mood booster untuknya. Tapi hadir Syahwa juga mengingatkan kembali tentang kenangan yang tidak menyenangkan.
Flashback

Kevin sedang duduk di bangku ketika seorang wanita berjalan didepannya.
“Hai, Clara! Siang nanti ketemu,yuk!”. ”Maaf, ada urusan, nanti saja ya” jawab wanita itu singkat sambil berjalan pergi menjauhi kevin.
Dia kenapa sih? Akhir-akhir ini dia berubah. Kevin kemudian mengikuti wanita itu dari belakang.
“Eh, bukannya dia pacar lo? Kok lo gak mau diajak ketemuan?” kata seorang wanita yang merupakan teman Clara. “Hah? Pacar gue? Bukan ah, udah putus” jawab Clara.
Prak! Hati Kevin pecah seketika. Dia tidak menyangka dengan apa yang dia dengar. Inilah jawaban dari semua pertanyaan Kevin. Semua perasaan tercampur dalam benaknya. Dia lega karena dia berhasil menemukan jawaban dari pertanyaannya, tapi disisi lainnya dia sedih karena jawaban yang dia dapat sangat membuat hatinya perih.
“Clara!” teriak Kevin dari belakang dengan penuh emosi.“Kevin?” jawab Clara dengan kaget. “Jadi itu sebabnya kamu menjauh dariku? Kamu malu punya pacar sepertiku? Kenapa sih Clara? Kenapa kamu nggak jujur aja sama aku? Aku ini pacarmu loh, bisa-bisanya kamu berkata seperti itu!”.
Clara hanya terdiam, dia tidak mampu menjawab pertanyaan Kevin yang seperti peluru, menghujam kulit Clara tanpa memperdulikan sakitnya.
“Oke kalau itu memang mau kamu, aku bakal menjauh. Mulai saat ini dan seterusnya kita nggak perlu dekat lagi. Kamu pikir enak apa digantungin seperti ini, kemudian kamu bilang kita udah putus sama orang lain?. Kalau begitu kita sampai disini saja, makasih buat semuanya” kata Kevin sambil beranjak pergi.
End of Flashback

Semenjak saat itu, dia kemudian berpikir, kalau cinta itu hanyalah karangan negeri dongeng. Yang dibuat hanya untuk menyenangkan orang tanpa memperdulikan nyata atau tidaknya. Cinta itu bodoh batinnya.
Setidaknya begitu, sampai seorang gadis mulai memudarkan kata itu, mengubah seluruh persepsi Kevin tentang cinta. Dan tanpa ia sadari, ia mulai mengisi bingkai kosong dihatinya dengan wajah Syahwa. Dia jatuh cinta kepadanya.
***
Tok tok! Suara ketukan pintu seketika membangunkan Syahwa dari negeri mimpi.
“Non Sasa, ada tamu tuh diluar,” kata bibi Woro sambil membuka pintu kamar Syahwa. Dan langsung dibalas dengan anggukan dari Syahwa. “Sepertinya ada perlu tuh, cowok lagi hihi” goda bibi Woro kepada Syahwa seraya menutup pintu.
Hah? Cowok? Tumben.
Syahwa melirik jam menunjukkan jam 16.30.
Siapa sih sore-sore gini ganggu aku lagi mimpi.
Dengan malas-malasan dia membuka gorden jendelanya dan melihat kebawah untuk melihat siapa cowok yang berani mengusiknya dari negeri mimpi. Dan mata nya terbelalak melihat sosok yang ada dibawah sedang melambaikan tangannya.
Buru-buru dia mengganti baju tidurnya dengan baju stelan santai –t-shirt dan rok dibawah lutut- dan segera turun kebawah menemui orang itu sambil menenteng catatan kecilnya.
“Hai, Tuan Putri!” sapa orang itu yang ternyata sosok yang sangat ia kenali, sosok yang beberapa hari ini sudah mengisi hari-harinya. Kevin. Syahwa kemudian menulis di catatan kecilnya, dan memberikan catatannya kepada Kevin. “Kok gak ngabarin mau datang?” tulisnya.
“Surprise dong, masa mau surprise harus laporan dulu hahaha” jawab Kevin sambil tertawa, tawa yang selalu bisa memikat hati Syahwa. “Eh, iya, jalan yuk!” ajak Kevin bersemangat dan langsung menarik tangan Syahwa, memaksanya duduk di jok motor tanpa menunggu persetujuannya.
***
“Nah, sampai nih Tuan Putri,” kata Kevin seraya mematikan motornya, tepatnya motor orang tuanya. Syahwa kemudian turun dan terpaku dengan apa yang ada dihadapannya.
Syahwa melihat matahari terbenam dari atas sebuah bukit, matahari yang sudah mulai menyembunyikan sinarnya, mengubah warna langit biru menjadi warna orange. Disekitarnya dia melihat banyak pasangan, baik suami-istri, maupun sepasang remaja yang sedang bermain diatas bukit itu.
“Disini tempat yang selalu aku kunjungi setiap aku butuh ketenangan,” suara Kevin langsung menyita perhatiannya, membuyarkan lamunannya tentang keindahan alam yang barusan dia lihat. “Eh duduk disitu,yuk!” tunjuk Kevin ke bangku yang ada di dekat pembatas bukit, tidak terlalu panjang tapi cukup untuk dua orang.
Syahwa mengambil catatannya dan menuliskan sesuatu. “Tempat ini indah banget,” tulisnya sambil melihat kearah Kevin yang langsung melihat apa yang ditulis Syahwa.
“Tidak seindah senyum kamu,” jawab Kevin sambil tersenyum. Sebuah kalimat yang langsung membuat pipi Syahwa memerah.
Sejenak kemudian tercipta keheningan diantara mereka, mereka terhanyut dengan pikiran dan perasaan mereka masing-masing. Perasaan yang sama, perasaan yang selalu saja tercipta diantara pria dan wanita yang saling suka, perasaan yang seolah dapat membuat dunia menjadi hanya milih berdua. Cinta.
“Menurutmu, Cinta itu apa, Tuan Putri?” Kevin membuka suara, mencoba memecah keheningan antara keduanya. Syahwa berpikir sejenak, kemudian menyusun kata-kata di catatan kecilnya.
“Cinta itu perasaan yang dapat mengubah segalanya menjadi lebih indah, mengubah sedih menjadi bahagia, dan perasaan yang dapat mengisi kesepian yang selalu ada di hati setiap manusia” tulisnya.
Kevin hanya tersenyum sebelum kemudian catatan kecil Syahwa mendekat ke dirinya. “Menurutmu sendiri?” tanya Syahwa.
“Menurutku, cinta itu hanya perasaan yang menyakitkan sebuah perasaan yang cepat atau lambat, akan lahir air mata karenanya. Yah setidaknya menurutku begitu, sebelum...” Kevin tidak melanjutkan perkataannya. Syahwa pun memasang wajah heran seperti ingin Kevin melanjutkan kalimatnya. Kevin pun menyadarinya dan segera melanjutkan kalimatnya.
“... sebelum aku mengenalmu, Tuan Putri,” kata Kevin sambil mengeluarkan senyum tulus. Sesaat Syahwa merasa dunia seakan menghilang, yang ada hanya dirinya dan Kevin. Dia tidak menyangka Kevin memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Oh iya, aku ada sesuatu untukmu,” tanya Kevin sambil berlari ke motornya kemudian mengeluarkan sebuah plastik dan segera duduk disamping Syahwa lagi.
“Aku harap kamu suka,” kata Kevin sambil memberikan sebuah blocknote bergambar Love berwarna pink. Dia sangat senang sekali dengan pemberian dari Kevin. Dia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
Kemudian tanpa dia sadari, wajahnya semakin dekat dengan Kevin dan kemudian mencium pipinya dengan lekas dan langsung membuang pandangannya kearah lain. Tapi dia tidak bisa menghilangkan pipinya yang kini berubah lagi menjadi merah merona.
Kevin hanya tersenyum kemudian memegang tangan Syahwa. Genggaman yang seolah berkata dia tidak akan pernah meninggalkan Syahwa apapun yang terjadi. Langit orange dan matahari yang terbenam pun menjadi saksi sebuah cinta yang terbentuk diantara mereka berdua.
***
Syahwa membaringkan badannya, dia tidak bisa menghilangkan senyum yang terus melekat diwajahnya dari ketika Kevin mengantarnya pulang. Kemudian Syahwa mengambil ponselnya dan kemudian mengetik sebuah pesan singkat untuk Kevin.
“Thanks for today, pangeran :)” dan kemudian menekan tombol send.
Sesaat kemudian ada balasan pesan dari Kevin. “Thanks juga, tuan putri :)”.
Syahwa kemudian mengambil blocknote pemberian Kevin dan menuliskan sebuah kata-kata pada lembar pertamanya.
I can see lonely in your eyes
Let me wipe it with my compassion
I can see heartache in your eyes
Let me wipe it with my love

Oh, i want you to know
How i want you so bad
Oh, i want you to know
How i love you so much

-Syahwa

Sambil tersenyum dia meletakkan pena dan blocknote-nya disamping bantalnya dan mematikan lampu seraya berkata dalam hati. “Good night my prince”.
***

Created by Andhyka Cakra :)