Senin, 23 September 2013

"Sang Superhero"


                Namaku Radit, aku adalah seorang anak keluarga yang serba kekurangan. Ayahku hanya seorang petani, dan ibuku adalah buruh cuci. Tapi meski dengan hidupku yang kekurangan, aku  memiliki cita-cita besar meskipun agak “kekanak-kanakan”. Aku bercita-cita jadi superhero, misalnya seperti Spiderman dengan jaring laba-labanya, The Flash yang dapat mengelilingi dunia hanya dengan kedipan mata, ataupun jadi Hulk yang begitu marah bisa menghacurkan apa saja. Yah, mentok-mentok Gatot Kaca, pahlawan khas Indonesia.
Hari itu aku berjalan menuju sekolahku SMP Al-Ikhlas, sekolahku ini sangat mewah alias mepet sawah, atau biar lebih keren didekat pematang, cie elah. Aku memang terbiasa berangkat pagi-pagi, jadi tidak heran aku sering membantu membuka gerbang sekolah. “Hei,gi-pagi udah datang aja,” sapa temanku Kurniawan, atau biasa dipanggil awan. Aneh ya? Dari Kurniawan bisa dipanggil Awan, gak pantes. “Oh iya lah, wan! Radit gitu loh!” jawabku menyombongkan diri. “Alah, sombong banget kau!” jawabnya sambil bercanda. “Hoy, pagi-pagi udah rame aja kalian berdua,” kata seseorang yang ternyata adalah Yunus, teman sebangku-ku. “Tau nih! Sombong banget nih makhluk hahaha!” jawab Awan sambil mendorong punggungku. “Hahaha, eh kalian berdua nonton Justice League gak kemarin?” kataku membuka pembicaraan, aku dan kedua temanku ini mempunyai hobi yang sama, superhero. “Iya, wah keren banget Supermannya!” kata Yunus berbinar-binar. “Keren juga The Flash!” jawab Awan tak mau kalah. “Hahaha, semuanya keren kok, mudah-mudahan kita bisa jadi kayak mereka, ya!” kataku kepada kedua temanku. “Yah, mana bisa, mereka kan tokoh fiksi, lagian impossible banget kartun bisa jadi kenyataan,” jawab Awan. “Gak ada yang mustahil kok! Percaya aja!,” jawabku menyemangati diikuti anggukkan Yunus. “Eh, udah dulu yuk, udah mau masuk nih,” kata Yunus sambil melihat jam. “Oke!” jawab kami berdua.
“Ting!~ Ting!~,” bel sekolah berbunyi tanda waktu pulang telah tiba. Aku, Awan, dan Yunus pun pulang bersama karena memang rumah kami tidak terlalu berjauhan, hanya berbeda beberapa rumah. “Haduh, capek banget hari ini!” kata Awan sambil meregangkan tangannya. “Iya,nih! Malah guru ngasih tugas banyak banget,” sambungku sambil membolak-balik buku mengecek tugas hari itu. “Semangat dong! Toh kalau kita gak dikasih tugas kan dirumah gak ada kerjaan?” kata Yunus. Kami pun berjalan dan kemudian terdengar teriakan “Tolong! Tolong!”. “Hey, dengar gak?” kataku sambil menyetop kedua temanku. “Iya dengar, dimana ya?” kata Awan sambil melihat-lihat sekitar, dan ternyata asalnya dari semak-semak sempit. Kami sering sekali lewat hutan kecil karena menurut kami lebih cepat kerumah lewat sana. “Ayo kita cari!” kataku diikuti anggukkan kedua temanku, kami pun mengendap-endap berjalan mengikuti teriakan itu.
“Hey,diam! Kalau kamu teriak terus, aku bunuh kau!” kata seorang laki-laki yang berumur sekitar 30 tahun. “Tolong kasihani saya om!” kata seorang wanita berjilbab yang kira-kira masih berumur 17 tahun. “Jangan panggil om,dong! Panggil akang aja, hahaha!” jawab laki-laki itu sambil membuka jaket dan bajunya. “Waduh, gawat nih! Kita harus tolong tuh mbak!” kata Yunus. “Betul! Kalau gak runyam nih!” sambung Awan berbisik-bisik. “Nah! Aku ada ide, kalian masih simpan sirine pas pelajaran elektro tadi kan?” kataku sambil mengingatkan mereka tentang praktikum tadi. “Iya! Masih kok,” jawab mereka serentak. “Sip! Sekarang Yunus kesana, Awan kesana, dan tunggu tanda dariku, begitu aku kasih tanda, bunyikan sirine nya dengan volume paling besar!” kataku menjelaskan diikuti anggukkan mengerti oleh kedua temanku dan mereka langsung ambil posisi. “Nah, sekarang giliranku,” pikirku sambil mencari sebuah batu dan ketemu, “Bismillahirrahmanirrahim,” jawabku sambil kemudian melesakkan batu ke kepala laki-laki itu. “Jtak,” tepat mengenai kepala laki-laki itu. “Sial, siapa yang lempar batu ini!” jawabnya marah. “Hey,om! Beraninya sama cewek, sini kalau berani!” kataku. “Kurang ajar kamu ya!” kata laki-laki itu berusaha mengejarku. Aku pun mengangkat tanganku dan seolah mengerti tandanya, kedua temanku membunyikan sirine sesuai perkataanku. “Polisi! Tolong!” sambil melambaikan tangan yang aku angkat tadi. “Hah! Polisi! Aku harus kabur!” kata laki-laki itu kabur, namun ternyata banyak warga sana yang mendengar sirine kami, dan salah satunya Pak RT kami. “Pak, tangkap orang itu, dia mengganggu mbak ini!” teriak Awan sambil menunjuk mbak tadi. Akhirnya lelaki itu kemudian ditangkap oleh seluruh warga.
“Mbak? Mbak tidak apa-apa, kan?” kata Yunus. “Tidak apa-apa,dik. Terima kasih sudah menolong,mbak,” kata mbak itu sambil tersenyum. “Loh, aninda kok bisa disini?” kata Pak RT. “Iya ayah, tadi aku naik ojek, dan ternyata tukang ojek itu laki-laki jahat, untuk ada mereka,” kata mbak itu yang ternyata anak Pak RT. “Oh, jadi mbak anak Pak RT. Pantes aja saya kayak kenal mbak,” kataku sambil tersenyum. “Jadi gimana dengan laki-laki itu, pak?” tanya Yunus. “Dia akan bapak kepihak yang berwajib, dan mungkin kalian akan diminta menjadi saksi. Tidak apa, kan?” kata Pak RT. “Tidak apa kok, pak!” jawabku sambil tersenyum diikuti kedua temanku.
Semenjak kejadian itu kami-pun diangkat sebagai Pahlawan Remaja di polisi serta diberi beasiswa bersekolah oleh salah satu universitas negeri di daerah kami. Orang tua kami pun sangat bangga dengan kami. Ini menjadi sebuah pelajaran, bahwa jangan pernah menganggap mimpi itu mustahil meski mimpi itu sangat aneh. Meskipun, kita tidak bisa menjadi pahlawan super seperti di TV, tapi kita bisa menjadi pahlawan super bagi keluarga dan bangsa kita sendiri.

Tamat


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar